Petani semangka bangga dengan swasembada

  • Whatsapp

Tembesi, BatamEkbiz.Com — Matahari baru bergeser dari atas ubun-ubun, namun aktivitas warga justru mulai menggeliat. Beberapa kursi dideret rapi di bawah panggung seukuran 5×6 meter, berjarak 10 meter dari perkebunan semangka di Kampung Tembesi Bengkel, Kelurahan Kibing, Kecamatan Batuaji. Di satu sisi panggung, disajikan hidangan menu makanan.

“Kami mau mengadakan acara panen raya,” kata Sutaryo yang tengah sibuk memeriksa kebun, Minggu (22/3/2015) siang.

Panen raya dilakukan petani Kampung Tembesi Bengkel sebagai wujud syukur atas melimpahnya hasil panen. Semburat kegembiraan terpancar dari wajah-wajah para petani. Kesenian rakyat dihadirkan untuk menyemarakkan suasana. Warga yang datang diberikan kebebasan untuk membawa pulang satu semangka ke rumah. Syaratnya, memetik sendiri ke kebun.

Warga pun sukacita turun ke kebun mencari semangka sesuai selera. Di antara mereka ada juga yang tidak sabar untuk menikmati hasil panen petani. Berhasil memetik satu buah, semangka pun langsung dibelah, dan ternyata isinya merah.

Sekira 70 ton semangka dari lahan seluas lima hektare siap dipanen hari itu. Kebetulan, harga semangka lagi bagus, Rp4500 per kilogram. Itu kalau pembeli mengambil langsung ke kebun. Tapi kalau minta diantar, harganya naik Rp200 menjadi Rp4700 per kilogram.

Sutaryo menjelaskan, setiap hektare lahan semangka itu dikerjakan oleh dua keluarga. Dari hasil panen tersebut, petani berhasil meraup Rp315 juta. Sedangkan untuk bibit hingga panen, biaya produksi yang dikeluarkan mencapai Rp25 juta per hektare. Artinya untuk 10 keluarga dari lahan seluas lima hektare, masing-masing akan mendapatkan keuntungan hingga Rp19 juta.

“Kalau cuaca lagi bagus, semangka sudah bisa dipanen dalam jangka dua bulan ,” jelas Ketua RT 07/ RW 01 ini.

Kampung Tembesi Bengkel dihuni oleh sekira 500 kepala keluarga. Rata-rata mereka adalah petani yang mengolah lahan pertanian sekitar sejak belasan tahun lalu.

Menurut Sutaryo, dulunya Kampung Tembesi Bengkel adalah hutan belantara dan rawa-rawa. Perlu waktu lebih dari tiga tahun untuk mengubah hutan dan rawa menjadi lahan pertanian produktif seperti sekarang ini.

Bukan hal yang mudah memang, perlu ketekunan dan kesabaran untuk mencari jalan keluar atas beragam kesulitan. Di antara kesulitan itu adalah minimnya ketersediaan air, sebab hanya mengandalkan dari air tadah hujan. Kondisi ini membuat hasil panen tidak maksimal dan terkadang mengalami keterlambatan.

Untuk menyiasati minimnya air dan menjaga kesuburan tanah, petani menanam dengan sistem tumpang sari, lahan yang sama ditanami tanaman berbeda. Selain semangka, lahan juga ditanami sayur mayur, jagung, ketela pohon, dan buah.

Dalam lima tahun terakhir, petani juga bergotong royong membuat tempat penampungan air di bukit yang jaraknya sekitar ratusan meter dari lahan pertanian tersebut. Air di tempat penampungan ini kemudian di salurkan melalui pipa ke lahan-lahan pertanian.

“Pembuatan tempat penampungan air ini sangat membantu. Hanya saja kalau musim kering berlangsung cukup panjang, tempat penampungan bisa kering dan tak ada air yang bisa disalurkan ke lahan pertanian,” katanya.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sidodadi Muhammad Yamin mengatakan, hasil pertanian di Kampung Tembesi Bengkel cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan lokal Batam. Tidak seluruhnya memang, karena masih banyak hasil pertanian yang harus didatangkan dari luar daerah.

“Perhatian pemerintah masih minim untuk produk pertanian seperti semangka. Kalau untuk petani sayuran, cabai, dan ketela pohon ada bantuan dari pemerintah seperti benih dan pupuk,” katanya.

Wakil Gubernur Kepri Soerya Respationo ikut merasakan kebahagiaan petani dalam panen raya. Menurutnya, potensi pertanian di Batam cukup bagus, tinggal bagaimana Pemprov Kepri dan Pemko Batam bersama-sama mencari solusi untuk meningkatkan hasil produk pertanian.

“Pemprov Kepri dan Pemko Batam harus mencarikan solusi dengan memfasilitasi mereka,” kata Soerya yang hadir dalam panen raya didampingi istri Rekaveny, Ketua DPRD Kepri Jumaga Nadeak, Ketua DPRD Batam Nuryanto, Anggota DPRD Kepri Saproni, dan Anggota DPRD Batam Sugito. (R03)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *