Produk Pangan Terkendala Lahan

Petani Sayur Tembesi Sidomulyo, Batuaji, BatamBatang-batang rumput ilalang tumbuh di antara tanaman sayuran di lahan pertanian Tembesi Sidomulyo, Kelurahan Tembesi, Kecamatan Sagulung, Batam. Sejumlah petani terlihat giat menjalani rutinitasnya. Ada yang tengah mencangkul lahan, memupuk tanaman, dan membersihkan rerumputan.

“Di waktu pagi, biasa saya mencabut rumput yang tumbuh di sana-sini,” ujar Muharjo (65), seorang petani sayur, Jumat (22/8/2014).

Tembesi Sidomulyo merupakan salah satu sentra pertanian di Kota Batam. Kebutuhan sayur mayur bagi warga Batam, sebagian besar dipasok dari kawasan dengan 200 kepala keluarga ini.

Muharjo mengatakan, terdapat sekira 1,5 hektare lahan yang ia kerjakan sebagai lahan perkebunan sayur. Lahan ini ditanami jenis sayuran tertentu, seperti bayam, kangkung, jagung hingga cabai.

Ia tidak bekerja sendiri. Ada seorang istri dan lima anaknya yang membantunya menggarap lahan.

Pagi sekira jam 07.00 hingga 11.00 ia manfaatkan untuk membersihkan lahan perkebunan dari rumput dan ilalang. Setelah istirahat siang, kakek tiga cucu ini kembali melanjutkan aktivitas hingga sore hari.

“Kami mulai mengelola lahan pertanian disini sejak 1982. Hingga tahun 1990-an, kondisi lingkungan sekitar masih rawa-rawa dan hutan,” kenangnya.

Bertani sayur adalah satu-satunya mata pencahariannya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Untungnya, kebutuhan masyarakat Batam terhadap sayur cukup tinggi. Sehingga setiap kali panen, seluruhnya bisa langsung habis dijual ke pasar ataupun diambil para pedagang yang datang ke kebun.

Sayuran jenis bayam, bisa dipanen dalam masa 28 hari. Sekali panen bisa menghasilkan hingga 170 kilogram bayam dengan harga perkilogramnya Rp15 ribu.

Sedangkan kangkung masa panennya antara 20 hingga 22 hari. Sekali panen bisa menghasilkan 120 kilogram dengan harga perkilonya Rp12 ribu.

“Saat ini harga sayuran sedang tinggi dari biasanya yang hanya Rp4 ribu hingga Rp5 ribu perkilogram,” ungkapnya.

Menurut Muharjo, tingginya harga sayuran ini disebabkan banyak petani sayur yang mudik lebaran ke kampung halaman. Sehingga hasil panen menurun, sedangkan permintaan tetap, bahkan cenderung meningkat.

Kemudian untuk jagung masa panennya 65 hari. Berbeda dengan bayam dan kangkung, penjualan jagung tidak dilakukan perkilogram, tapi perbiji. Harga jagung yang belum dikupas kulitnya dijual Rp2.500 perbiji. Sedangkan jagung yang sudah dikupas, harganya lebih mahal, Rp7.500 perbiji.

“Sekali panen bisa sampai 300 kilogram jagung dan setiap kilogramnya rata-rata berisi enam jagung,” ujarnya.

Untuk penjualan, Muharjo tidak perlu repot. Sudah ada pedagang pasar di Tos 3000 Jodoh yang siap menampung hasil sayur di lahan kebunnya. Setiap malam sekira jam 23.30 hingga 01.00, sayur-sayur itu harus sudah diantar ke pasar dengan truk sewa. Sekali antar, muatannya bisa mencapai satu ton.

Sementara guna menjaga kesinambungan hasil panen sayur, petani setempat mendirikan Kelompok Tani Subur Makmur. Anggotanya ada 23 orang dengan luas lahan garapan sekira 50 hektare.

Ketua Kelompok Tani Subur Makmur Suyatno mengatakan, kelompok tani ini didirikan pada 2009. Tujuannya untuk meringankan beban dan memudahkan anggota dalam menjaga keberlangsungan produksi pertanian, peningkatan potensi, dan kesejahteraan anggota. Seperti menyediakan kebutuhan pupuk, bibit, dan pendistribusian program bantuan yang diberikan pemerintah daerah melalui Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian, dan Kehutanan (KP2K) Kota Batam.

“Kami juga membentuk koperasi yang menaungi kebutuhan anggota. Melalui koperasi, anggota bisa melakukan simpan pinjam serta mengambil pupuk dan bibit yang bisa dibayar belakangan. Nanti saat panen, hutang-hutang itu dibayar kembali,” katanya.

Menurut Suyatno, berkat pengelolaan yang berdampak langsung pada kemudahan dan kesejahteraan anggotanya, Kelompok Tani Subur Makmur mendapatkan penghargaan sebagai Kelembagaan Ekonomi Petani Berprestasi tingkat Nasional 2014. Penghargaan ini diserahkan langsung oleh Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, tepat pada Peringatan Hari Kemerdekaan ke-69 Republik Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Pengurus Kelompok Tani Subur Makmur juga mendapatkan kesempatan untuk bertemu dan berfoto bersama dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Selain mendapatkan piagam penghargaan dan piala, Kelompok Tani Subur Makmur juga mendapatkan hadiah uang tunai Rp15 juta dipotong pajak 25%,” ujarnya.

Meski mampu memasok sayuran untuk kebutuhan lokal, namun belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan sayur di Kota Batam. Petani Batam baru mampu memenuhi kebutuhan sayur lokal sekira 30%. Kekurangan kebutuhan sayur di Batam, sekira 70% dipenuhi dari sayur daerah lain dan impor.

Kepala Dinas KP2K Kota Batam Suhartini mengatakan, selama periode Januari hingga Maret 2014, impor hortikultura di Batam mencapai 6.387,6 ton dari kuota untuk enam bulan pertama 2014 sebanyak 7.140,5 ton. Di antara produk hortikultura yang diimpor adalah sawi 44,5 ton, sayuran segar dari Malaysia 10,4 ton, sayuran segar dari Singapura 5,4 ton dan jagung manis 19,2 ton. Impor berasal dari negara Bangladesh, Thailand, Malaysia, dan Singapura.

“Sedangkan sayur yang dipasok dari daerah lain, salah satunya berasal dari Kabupaten Bintan. Setiap harinya, petani Bintan mampu memasok sekira 100 ton sayur,” katanya.

Terkendala Lahan

Lahan menjadi persoalan utama bagi petani di Batam untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Meski sudah menggarap lahan pertanian di kawasan itu sejak 32 tahun lalu, namun status lahan masih belum jelas. Lahan yang dimanfaatkan para petani di Tembesi Sidomulyo untuk menanam berbagai kebutuhan pangan adalah hutan lindung.

“Kami khawatir sewaktu-waktu digusur,” kata Muharjo.

Menurut Muharjo, petani sudah beberapa kali meminta diberikan kepastian dari pemerintah terhadap status lahan yang mereka garap. Mereka juga bersedia membayar Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) atas lahan yang diusahakan.

Tanpa kepastian status lahan, ruang gerak petani untuk mengelola semakin terbatas. Apalagi jika sewaktu-waktu pemerintah mengubah lahan-lahan pertanian tersebut menjadi lahan komersil.

“Kami hanya ingin bekerja dengan tenang dan bisa memproduksi lebih banyak sayur untuk kebutuhan masyarakat Batam,” ujarnya.

Suhartini mengaku masih kesulitan untuk memecahkan masalah petani. Ia merasa serba salah, disatu sisi pengembangan pertanian penting demi ketahanan pangan, namun disisi lain keterbatasan lahan.

“Lahan di Batam lebih difokuskan untuk industri dan pariwisata. Ini seperti makan buah simalakama,” katanya.

Menurut Suhartini, terus dipasoknya sayuran dari luar daerah menjadikan harga sayuran di Batam sangat mahal. Kenaikan harga sayuran bisa mencapai 100 persen, karena harus didatangkan dari luar daerah dengan ongkos transportasi yang juga mahal.

“Kami sudah mengusulkan agar diberi izin untuk menjadikan lahan-lahan terlantar sebagai lahan pertanian, namun belum ada jawaban,” katanya. (zaki setiawan)