Rapid Tes dan PCR Jangan Jadi Aji Mumpung

  • Whatsapp
Penyisiran penanganan virus corona ke masyarakat di Kecamatan Nongsa, Kota Batam pada Sabtu, 30 Mei 2020.

Jakarta, BatamEkbiz.com – Kewajiban calon penumpang pesawat mengantongi surat keterangan hasil uji swab polymerase chain reaction (PCR) negatif atau hasil rapid tes nonreaktif jangan sampai membebani warga. Syarat biaya tes yang dilakukan secara mandiri tersebut mesti terjangkau.

“Kebijakan melonggarkan aturan ini mungkin akibat dari banyaknya keluhan dan protes masyarakat, khususnya maskapai penerbangan. Kalau biaya tes PCR lebih mahal dibanding harga tiket pesawat, ya wajar masyarakat keberatan. Bahkan banyak maskapai penerbangan yang terancam gulung tikar. Tapi pertanyaannya, apakah hanya dengan rapid tes, risiko penyebaran Covid-19 bisa dicegah?” tanya Anggota Komisi IX DPR RI Rahmad Handoyo dalam siaran persnya, Rabu (10/6/2020).

Bacaan Lainnya

Kewajiban calon penumpang mengantongi keterangan hasil uji PCR atau rapid tes itu diatur pemerintah melalui Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2020. Tanpa surat keterangan tersebut, calon penumpang tidak diperbolehkan terbang.

“Ini untuk penerbangan domestik,” jelas Direktur Bandar Udara dan Teknologi Informasi Komunikasi (BUTIK) BP Batam, Suwarso.

Dinas Perhubungan Kota Batam juga sempat menerbitkan surat edaran yang mewajibkan penumpang pelabuhan yang masuk Batam wajib melampirkan hasil rapid tes atau PCR negatif atau nonreaktif. Kebijakan ini menuai polemik, karena menyulitkan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang merosot. Sebab biaya rapid tes atau PCR itu tak sedikit, bisa sampai ratusan ribu rupiah.

Setelah menjadi polemik, Pemko Batam akhirnya mengevaluasi kebijakan tersebut. Masyarakat kabupaten/kota di Provinsi Kepri yang akan masuk Batam tak lagi diwajibkan rapid tes atau PCR, namun cukup dengan mematuhi protokol kesehatan.

Menurut Rahmad, besaran biaya tes PCR dan rapid tes yang dipatok pihak rumah sakit selama ini sangat memprihatinkan. “Jangan sampai ada pihak yang aji mumpung, mencari kesempatan dalam kesempitan,” kritik politisi PDI-Perjuangan ini. (re)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *