Sei Beduk, BatamEkbiz.Com — Kekecewaan kembali dialami caleg dari kalangan buruh dalam pemilu kali ini. Sebagaimana pemilu sebelumnya, caleg dari kalangan buruh kembali gagal mendulang suara sebagai modal duduk di kursi DPRD Batam maupun Kepri.

Caleg DPRD Batam dari Hanura, Suprapto salah satunya. Perolehan suara caleg nomor urut 4 ini, hanya ratusan suara di dapil 3, Kecamatan Nongsa, Sei Beduk, Bulang, dan Galang. Bahkan suara akumulasi partai, dikhawatirkan tidak mampu memenuhi ambang batas bilangan pembagi pemilih (BPP).

Di sejumlah kelurahan di Kecamatan Sei Beduk, sebagai daerah lumbung suara buruh, Suprapto juga gagal meraih suara maksimal. Di Kelurahan Tanjungpiayu misalnya, suara Suprapto masih kalah dengan caleg internal nomor urut 8, Handa Tahi Tagor Rumahorbo. Handa berhasil meraih 52 suara dari 222 suara seluruh caleg dan partai Hanura di Kelurahan Tanjungpiayu, sedangkan Suprapto hanya meraih 37 suara.

Padahal di kalangan buruh, Suprapto sudah tidak asing lagi. Setiap demo buruh, apalagi di tingkat Kota Batam, Koordinator Garda Metal selalu ada di barisan depan. Di belakangnya, ratusan hingga ribuan buruh siap mengikuti komando dan mendengarkan orasinya.

Namun suara lantang, pantang bergerak tanpa menang, dan selalu memperjuangkan hak buruh bukanlah jaminan. Keberpihakannya atas nasib dan perjuangan buruh, tidak berbanding lurus dengan dukungan suara buruh kepadanya.

“Suara saya kalah dibanding caleg yang lain,” katanya.

Tidak hanya Suprapto, aktivis buruh yang maju sebagai caleg DPRD. Surya Darma Sitompul dan Masmur Siahaan, Pengurus SBSI Batam, Mochamat Mustofa Pengurus FSPMI Batam, dan Setia Putra Tarigan, Pengurus KSPSI Batam juga bernasib sama. Tidak mampu mendulang suara signifikan yang dapat mengantarkannya sebagai anggota DPRD Batam.

Masmur Siahaan dan Mochamat Mustofa juga maju dari dapil 3 Kota Batam. Masmur Siahaan, caleg nomor urut 7 PKPI, hanya mampu menghimpun 6 suara di Kelurahan Tanjungpiayu. Sedangkan Muhammad Mustofa, caleg nomor urut 8 PKS hanya mampu mendulang 35 suara.

Suprapto tidak heran dengan minimnyaAC perolehan suara caleg yang berasal dari kalangan buruh. Politik uang menjadi alasan atas kegagalan para caleg dari kalangan buruh untuk bisa duduk di kursi dewan.

“Buruh maupun masyarakat lebih memilih caleg yang memberikan uang. Ini pengalaman, 2019 nanti saya akan maju kembali,” ujarnya. (R02)