Teror dari Jalanan

  • Whatsapp

Korban kecelakaan di jalan raya, Karnila Masyuni usai disalatkan di Masjid At Taqwa Perumahan Bumi Kencana Batuaji.Mendung diiringi gerimis menyelimuti sebagian wilayah Batam, Rabu (22/10/2014) pagi itu. Jalanan terasa lebih lengang, tak banyak aktivitas dilakukan warga di luar rumah. 

Di jalan tanah lapang di kawasan rumah liar Bumi Kencana, RW 16 Kelurahan Kibing, Kecamatan Batuaji, Batam, Rafniyeti alias Iyet berjalan sempoyongan di tengah gerimis. Wajahnya terlihat sembab dengan air mata yang terus mengalir. Sesekali ia usap air mata itu dengan kain jilbab warna biru yang dikenakannya.

Isak tangis terdengar lirih saat dua orang membopong Iyet berjalan menuju rumahnya yang menjorok sekira 100 meter dari tanah lapang itu. Iyet menempati rumah nomor 252, berdinding campuran-setengah batako dan selebihnya papan-, berdiri sekira satu meter di atas rawa.

“Ia baru pulang dari pemakaman anaknya,” ungkap Indra Syahlan, adik ipar yang ikut mengantarkan pemakaman Karnila Masyuni, 17.

Nila-biasa Karnila Masyuni dipanggil-adalah anak semata wayang pasangan Ali Muda Ritonga dan Rafniyeti. Siswi kelas 3 SMA Muhammadiyah Batuaji ini ditemukan tergeletak di pinggir jalan perkebunan Otorita Batam Sei Temiang, arah Tanjung Riau Sekupang, Selasa (21/10) sekira pukul 20.00. Disampingnya, tergolek sepeda motor Honda Beat warna hitam BP 2267 MC dalam kondisi ringsek dan pelek depan penyok.

Tiga warga sekitar yang menemukan Nila langsung membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah, Batuaji. Nila terluka di bagian rahang sebelah kiri seperti bekas tusukan, luka di bagian perut, luka gores di pipi kiri, dan kedua ujung kaki seperti luka bekas terseret. Orang tua Nila baru mengetahui kondisi anaknya telah pergi untuk selamanya setelah jenazah Nila ada di RSUD.

“Ia pamit membeli bedak dan minyak (bensin). Tapi kenapa kok akhirnya seperti ini nak,,,?” kata Iyet dengan derai air mata, disamping jasad anaknya yang terbujur kaku.

Belum diketahui secara pasti penyebab tewasnya Nila, apakah menjadi korban penjambretan, kecelakaan, pencabulan, atau pembunuhan. Suasana jalanan di sekitar lokasi Nila ditemukan yang sepi, kejadian pada malam hari, dan minimnya saksi membuat pihak kepolisian kesulitan menyelidiki serta menjadikan kasus ini semakin misteri.

“Korban diduga kecelakaan tunggal, menghantam tiang listrik,” kata Kepala Polsek Sekupang Kompol Rimsyahtono.

Jalan raya Sei Temiang adalah salah satu kawasan yang rawan tindak kejahatan di Batam. Beberapa kali aksi penjambretan, kekerasan, hingga pencabulan ditemukan di kawasan ini.

“Kalau jambret, hampir tiap hari ada yang jadi korban di kawasan ini,” ungkap Sofyan, warga kawasan Perumahan Paradise sambil menunjuk jalan raya Sei Temiang. “Tidak hanya malam hari, siang hari pun mereka beraksi. Jalanan kini tak lagi aman. Apalagi sekarang marak geng motor beraksi di jalanan”

Tewasnya Nila, semakin menebar misteri tindak kriminalitas di jalanan. Sebelumnya, Vegi Verliana Moticha, 19, menjadi korban penjambretan yang diduga dilakukan kawanan geng motor di dekat jalan Bukit Daeng Tembesi. Ia jatuh dari motor dan kritis setelah seorang jambret menarik paksa tas yang dibawanya.

Korban sempat koma hingga lima hari di RSUD Embung Fatimah dan Rumah Sakit Awal Bros. Warga Tering Raya Blok B2 Nomor 6, Melcem, Batuampar ini akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya pada Jumat (19/9).

Dwi Meliani Ningsih, 16, siswi SMKN 2 Batam juga menjadi korban kekerasan dan ditemukan bersimbah darah di pinggir jalan Kampung Nelayan, Tanjunguma, Senin (9/6). Warga Legenda Malaka Blok A3 nomor 20, Batam Centre ini akhirnya menghembuskan nafas terakhir setelah sempat dirawat selama 16 hari di rumah sakit.

Berbeda dengan kasus yang dialami Nila atau Vegi, pelaku tindak kriminal di jalanan terhadap Dwi berhasil ditangkap. Adalah remaja berinisial De (14), pacar Dwi sekaligus anggota geng motor Ganas Nekat dan Sadis (Ganesa) pelakunya.

De ditangkap Tim Buser Polsek Lubukbaja sekitar dua minggu pasca kejadian. Ia mengaku nekat menikam dan merampok pacarnya sendiri karena desakan dari Ketua Geng Motor Ganesa, Heri Sandy (18).

“Saya kepepet dan didesak untuk terus mencari korban. Mau tak mau pacar yang saya korbankan,” pengakuan De kepada polisi.

Setelah menangkap De, polisi akhirnya juga berhasil menangkap Heri Sandy seminggu kemudian. Meski memiliki postur tubuh kecil, faktor nyali dan keberanian membuat Heri Sandy didaulat sebagai ketua oleh para anggotanya.

“Dia (Heri Sandy) kita amankan di daerah Nagoya, Jumat (30/5/2014) malam. Dia ini yang menyuruh De merampok,” kata Kepala Polsek Lubukbaja Aris Rusdianto.

Maraknya geng motor membuat warga kian was-was. Komunitas yang anggotanya para remaja dan pelajar ini, tak segan-segan untuk tawuran, menjambret, merampok, dan melukai hingga menyebabkan kematian korban-korbannya.

Data Satlantas Polresta Barelang mencatat terjadinya peningkatan angka kecelakaan lalu lintas yang cukup signifikan. Pada 2012 terdapat 265 angka kecelakaan di Batam dengan 199 korban di antaranya meninggal dunia.

Kemudian pada 2013 jumlahnya naik menjadi 430 kasus dengan 113 korban di antaranya meninggal dunia. Kecelakaan lalu lintas masih didominasi oleh kendaraan roda dua.

Memasuki enam bulan pertama atau semester I di 2014, angka kecelakaan lalu lintas mencapai 230 kasus dengan 422 korban. Korban terdiri dari 68 orang meninggal dunia, 94 luka berat, dan 260 orang luka ringan dengan kerugian diperkirakan Rp1,65 miliar lebih.

Data Komisi Pengawasan dan Perlindungan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kepri juga menunjukkan meningkatnya kasus anak. Pada 2011, terdapat 110 kasus dengan jumlah anak terlibat mencapai 140 anak. Terdiri dari 52 anak berhadapan dengan hukum (ABH) atau sebagai pelaku dan 88 anak sebagai korban.

Kemudian pada 2012, jumlahnya naik drastis menjadi 152 kasus dengan jumlah anak terlibat hingga 213 anak. Terdiri dari 65 anak terkait ABH, 93 anak sebagai korban, 45 anak yang bermasalah dalam pengasuhan orang tuanya, 7 anak belum mendapatkan layanan kesehatan pemerintah, dan 3 anak bermasalah dalam hak pendidikannya.

Pada 2013, jumlahnya kembali meningkat menjadi 175 kasus dengan jumlah anak terlibat mencapai 281 anak. Terdiri dari 80 anak terkait ABH, 147 anak sebagai korban, 5 anak belum mendapatkan pemenuhan hak dasar pendidikan, 47 anak yang bermasalah dalam pengasuhan orang tuanya, dan 2 anak belum mendapatkan layanan kesehatan pemerintah.

“Sementara untuk periode Januari hingga Agustus 2014, terdapat 143 kasus terkait anak. Kasus tertinggi menyangkut pencurian, termasuk masalah penjambretan di jalan raya,” ungkap Anggota KPPAD Kepri, Sudirman.

Menurut Sudirman, orang tua menjadi faktor utama dalam menekan terjadinya tindak kriminalitas dan kenakalan di kalangan anak-anak dan remaja. Seperti maraknya aksi penjambretan atau geng motor, tidak akan terjadi jika orang tua tidak memberikan kebebasan berlebihan kepada anaknya untuk membawa kendaraan bermotor.

“Orang tua sebaiknya jangan memberikan akses kepada anaknya untuk membawa kendaraan bermotor. Karena belum sepantasnya dan akan memicu tindakan yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Untuk menekan kenakalan di kalangan remaja, KPPAD mengaku gencar memberikan sosialisasi tentang perlindungan anak. Sosialisasi ini untuk menumbuhkan sikap kehati-hatian dan kepedulian masyarakat untuk memprioritaskan tanggung jawabnya dalam mendidik dan melindungi anak.

Peran orang tua, lanjut Sudirman, juga diharapkan dalam melakukan pengawasan bagi anak-anaknya. Orang tua harus memberikan anaknya untuk berkembang di lingkungan yang baik bagi masa depannya.

“Jika pengawasan keluarga lemah, maka akan memicu kenakalan di kalangan remaja,” imbuhnya.

Semua Berawal dari Rumah

Keluarga memiliki peran penting bagi tumbuh kembang anak. Keluarga yang baik akan menjadi penangkal bagi anak-anaknya dari jerat perilaku negatif.

Psikolog anak, Melly Puspita Sari, mengatakan pentingnya keterlibatan orang tua dalam menanggulangi masalah kenakalan remaja. Bicara remaja adalah bicara tahapan perkembangan manusia. Masa remaja yang terjadi pada usia belasan adalah masa-masa transisi.

“Dalam perkembangan manusia, remaja ada di tengah-tengah, masa peralihan dari anak-anak ke dewasa,” ujarnya.

Kasi Advokasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Kepri ini menjelaskan, menginjak masa remaja, akan mulai terjadi perubahan karakteristik pada anak. Di antaranya lebih mementingkan teman sebaya, rasa ingin tahunya tinggi, dan labil secara emosional.

Pengaruh jaringan teman sebaya sangat kuat dalam kehidupan remaja, selama proses pencarian jati diri. Pada proses ini, lebih banyak waktu yang akan dihabiskan dengan teman sebaya atau kelompoknya dibandingkan dengan keluarga.

Tingginya keingintahuan seorang remaja bisa menyebabkan remaja akhirnya sering coba-coba. Sementara dari sisi emosional, remaja tergolong labil, belum mampu membuat keputusan dengan kuat atau acapkali tak rasional dan tanpa alasan yang jelas.

“Biasanya kenakalan pada remaja terjadi karena adanya sesuatu yang mereka perjuangkan, seperti alasan solidaritas dengan kawan. Ini biasa terjadi di kalangan remaja, karena mereka memiliki rasa kesetiakawanan yang tinggi,” ujarnya.

Mengantisipasi kenakalan remaja menjadi aktivitas yang kian meresahkan, disinilah peran orang tua atau dewasa diperlukan. Orang tua dituntut mampu melakukan tindakan pencegahan atau preventif dengan menjauhkan anak dari lingkungan pergaulan yang buruk. Pola asuh orang tua dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan dan kepribadian anak karena orang tua merupakan figur pelindung, pemberi dan pemerhati sekaligus contoh bagi anak.

Menurut Melly, tindakan preventif bisa dilakukan jika orang tua mampu menjadi tempat berlindung dan curahan permasalahan bagi anak-anaknya secara nyaman. Misalnya dengan membuat sebuah media bagi terjalinnya komunikasi antara orang tua dan anak serta melibatkan diri dalam penyelesaian masalah secara bersama-sama.

Melalui media komunikasi ini, orang tua dapat mengajarkan anak-anaknya untuk terbiasa jujur. Terkadang selama ini masih ada perlakuan yang salah oleh orang tua, yang justru memarahi secara berlebihan saat anaknya mengadukan sebuah persoalan yang dihadapi. Tak sedikit anak-anak yang akhirnya takut bercerita jujur kepada orang tuanya.

“Semua berawal dari rumah. Karena itu, komunikasi kepada anak harus lebih sering dilakukan agar anak juga terbiasa mendapatkan solusi yang tepat,” ujarnya.

Melly juga menyoroti minimnya komitmen serius pemerintah untuk membangun sistem perlindungan anak dan penyaluran menyalurkan kreativitas anak. Karena tidak ada sarana untuk menyalurkan kreativitas, akhirnya mereka balapan liar dan kebut-kebutan di jalan raya.

“Sarana dan prasarana yang disediakan pemerintah bagi mewadahi kreativitas remaja di Batam masih minim, seperti arena balap dan sarana untuk menyalurkan kreativitas lainnya,” ujarnya. (zaki setiawan)