Tes PCR Rp650 Ribu Per Hewan Kurban, Pedagang Mengeluh Harga Jadi Mahal

  • Whatsapp

Batam, BatamEkbiz.com – Kewajiban untuk uji PCR Jembrana terhadap hewan kurban berdampak pada harga penjualan menjadi mahal. Sejumlah pedagang di Kota Batam mengeluh, karena penjualan mereka berpotensi menurun.

“Sekarang masih masa virus corona (Covid-19), ditambah lagi beban biaya untuk uji PCR Jembrana bagi setiap hewan kurban, otomatis harga jadi naik. Kami nggak berani datangkan banyak-banyak, khawatir sulit terjual,” ungkap Mohammad, seorang pedagang hewan kurban di Batam, Minggu (28/6/2020).

Bacaan Lainnya

Mohammad sudah terbilang lama menjalani usaha jual beli hewan kurban seperti sapi dan kambing di Batam. Berbagai jenis hewan kurban dijual, salah satunya sapi tipe metal dengan bobot mulai dari sekitar 450 kilogram sampai 700 kilogram. Kemudian Sapi Bali dan kambing dari bobot 23 kg sampai 40 kg.

“Warga yang berminat bisa melihat langsung jenis-jenis sapi dan kambing yang kami jual di Pusat Agri Bisnis Sei Temiang,” katanya.

Kewajiban pemeriksaan kesehatan bagi hewan-hewan kurban yang masuk Batam dipaparkan Kepala DKPP Batam, Mardanis. Pemeriksaan itu dilakukan dua kali, sebelum hewan kurban dipotong (antem mortem) dan setelah hewan kurban dipotong (post mortem). Tujuannya agar daging yang dihasilkan aman dikonsumsi masyarakat.

“Semua ternak/hewan kurban wajib bebas dari penyakit hewan menular. Khusus sapi Ras Bali yang akan masuk ke Kota Batam wajib melakukan pemeriksaan/uji PCR Jembrana di laboratorium Balai Veteriner Daerah Asal Ternak,” katanya.

Pemeriksaan untuk uji PCR Jembrana diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp650.000/ekor, belum termasuk biaya pakan dan sewa tempat penampungan menjelang uji PCR jembrana dikeluarkan oleh pihak Balai Veteriner.

Mardanis mengakui kewajiban untuk uji PCR Jembrana ini bakal berdampak terhadap harga hewan ternak. “Pasti berdampak pada harga penjualan sapi nantinya sampai di Batam.

Ia memperkirakan tahun ini hewan yang masuk ke Batam sekitar 3.500 ekor sapi dan 15.000 ekor kambing. Saat ini jumlah sapi yang sudah masuk sekitar 700-an ekor, dan rencananya masih akan datang lagi pada pengiriman berikutnya.

“Semua kelengkapan dokumen akan kami cek meliputi sertifikat kesehatan hewan dari daerah asal, Sertifikat pelepasan dari Balai Karantina Pertanian Kelas I Batam dan Hasil uji PCR Jembrana (khusus sapi ras bali),” katanya.

Pedagang hewan kurban, lanjut Mardanis, juga wajib menerapkan protokol kesehatan di lokasi tempat penjualan hewan kurban. Di antaranya harus menjaga jarak fisik (social distancing), menerapkan higiene personal dimana setiap orang yang keluar masuk tempat penjualan ternak wajib melakukan CPTS (cuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer dan masker).

Kemudian melakukan pemeriksaan kesehatan awal melalui pengukuran suhu tubuh bagi orang yang masuk tempat penjualan ternak. Serta menenerapan higiene dan sanitasi, dimana pemilik tempat penjualan ternak wajib menyediakan fasilitas CPTS atau Hand Sanitizer.

“Perlu saya sampaikan bahwa ternak sapi dan kambing serta ternak ruminansia lainnya tidak dapat menularkan penyakit corona virus disease (covid-19) baik antar ternak maupun dari ternak ke manusia,” katanya. (re)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *